
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.
Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu., dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Showing posts with label Just A Story. Show all posts
Aku Terpaksa Menikahimu...
.
Category Just A Story
1 X 24 Jam, Jangan Hubungi Aku!
.
Kisah sepasang kekasih yang saling mencinta. Pasangan ini sudah bertahun-tahun lamanya menjalin hubungan percintaan. Saling menjaga cinta, saling mengisi kekurangan dengan kelebihan masing-masing. Sudah tak ada lagi cela dalam kasih dan cinta mereka.
Hingga suatu hari, sang wanita meminta suatu hal pada kekasihnya.
"Sayangku, boleh aku mengajukan satu permintaan padamu?"
"Apa itu sayang?", ujar kekasihnya.
"Aku ingin mulai besok kamu jangan menghubungi aku. Aku ingin tahu apakah kamu sanggup untuk tidak bertemu dan menghubungiku selama satu hari? Jika kau bisa melalui itu, maka aku akan semakin mencintaimu dan akan mencintaimu hingga ku mati".
Pria itu pun mengiyakan keinginan kekasihnya. Keesokan harinya, selama satu hari penuh dia tak menemui dan menghubungi kekasihnya. Hingga lewat waktu 24 jam, pria itupun langsung mengunjungi kekasihnya dirumahnya.
Tapi betapa terkejutnya dia, karena yang dia temukan hanya jasad kaku sang kekasih yang sudah tak bernyawa. 24 jam terakhir adalah waktu hidup kekasihnya yang terakhir karena digerogoti kanker.
Surat terakhir yang ditulisnya berisi seperti ini :
"Kekasihku, kamu sungguh luar biasa. Kamu sanggup melewati 24 jam tanpa bertemu dan menghubungiku. Maka esok, lusa, dan seterusnya kamu pasti bisa melewati hari tanpa perlu bertemu dan menghubungiku lagi. Sebagai imbalannya, aku sudah memenuhi janjiku untuk mencintaimu hingga ku mati.....".
Category Just A Story
3 Centimeter Yang Menyiksa
.
Namaku Ferdy Anggoro. Diusiaku yang ke 28 tahun, aku terhitung sebagai lajang yang sukses. Memiliki karier yang mapan sebagai Public Relation sebuah Club ternama di Jakarta. Karier mapan, materi berlimpah, penampilan fisik yang nyaris sempurna, setidaknya begitulah yang selalu dikatakan oleh hampir sebagian orang yang mengenalku.
Memiliki karier sebagai Public Relation sebuah Club ternama, tinggal disebuah apartement dikawasan elite Kemang, punya mobil sport keluaran terbaru, body prima yang selalu di olah di Gym ternama daerah Semanggi, dengan perawatan kulit Dokter pribadi, hampir mendekati sempurna hidupku ini.
Tapi Tuhan memang Maha Adil. Di setiap kelebihan yang dimilki umat-Nya, selalu saja ada kekurangan. Dan aku, sampai detik ini, belum sekalipun cinta menghinggapi diriku. Mustahil memang jika dengan segala yang aku punya, tak ada satu lawan jenis pun yang mengisi hatiku. Banyak sekali wanita yang mencoba mendekatiku, dan hampir semuanya merupakan wanita idaman para lelaki. Tapi entah kenapa, aku tak pernah bisa mencoba menjalin hubungan dengan wanita-wanita itu.
Ada yang salah dengan diriku. Ya, aku sadar betul akan hal itu. Aku betul-betul tak sanggup melawan hal tersebut. Aku juga tak tahu bagaimana aku bisa mengatasi permasalahan itu..
Tracy, 25 tahun, terlahir dari Ibu yang berdarah Yogya dan Ayah yang asli Brazil. Sebagai wanita, Tracy benar-benar luar biasa! Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu, saat aku sedang mengembalikan video yang aku rental ketempat penyewaan video. Ternyata, Tracy sudah menunggu film yang aku pinjam itu. Disitu akupun memberanikan diri mengenalnya. Luar biasa, bukan hanya wajah dan kulitnya yang lembut. Tapi suara dan tutur katanya, mengalahkan lembutnya kapas atau salju.
Entah kenapa, setelah pertemuan itu aku jadi sering memikirkannya. Banyak alasan pun aku ucapkan, hanya untuk sekedar mengajaknya makan siang atau nonton film terbaru. Ada getar-getar tak tertahankan di dada, setiap aku berada disampingnya. Apakah ini yang dinamakan cinta??
Semakin hari, semakin sering bertemu dengan Tracy, rasa di hati ini semakin tak terbendung lagi. Tracy pun tanpa perlu aku mengucapkan kata-kata keramat cinta, dia sudah mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Ada respon positif yang aku dapat darinya. Sampai akhirnya, Tracylah yang memiliki inisiatif untuk membicarakan hal ini secara serius.
"Sepertinya kita harus mulai memikirkan langkah kedepan dari hubungan kita Fer. Karena, nggak mungkin juga kalo kita cuma seneng-seneng aja kayak ABG!", ucap Tracy.
"Betul juga, tapi aku belum siap!", ujarku.
"Apa lagi yang membuat kamu belum siap? Apa kamu masih ragu denganku?", tanyanya.
"Bukan itu. Justru aku masih ragu dengan diriku!", jelasku.
"Ragu kenapa?", tanya Tracy.
"Aku ragu, apakah aku bisa berkata jujur padamu tentang kondisiku yang sebenarnya", kataku.
"Kamu ngomong apa sih? Jujur apaan? Jangan bilang kalo kamu Gay!", Tracy jadi terlihat kesal.
Aku pikir, sekarang saatnya aku menyelesaikan masalah dengan diriku ini. Aku harus jujur pada gadis yang aku cintai ini.
"Jujur, seumur hidup aku belum pernah pacaran. Kamu tahu itu kan? Tapi kamu nggak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Aku hanya merasa takut, takut jika wanita yang aku cintai akan lari meninggalkanku jika dia tahu, bahwa waktu aku kecil 'burungku' terpotong lebih tiga centimeter pada saat disunat!!!"
***
Category Just A Story
Sweetest Thing....
.
Lelah sekali aku hari ini. Ritunitas sehari-hari yang meskipun sudah aku lakukan setiap hari, tapi tetap saja selalu melelahkan bagiku. Seperti biasa, aku sampai dirumah tepat disaat kedua orang tuaku siap untuk rutinitas makan malam bersama. Usai makan malam dengan kedua orang tuaku, aku langsung menuju kamarku, membersihkan badanku, dan bersiap untuk istirahat. Tidak untuk langsung tidur, sekedar hanya untuk meregangkan badan sambil menghubungkan laptop kesayanganku dengan dunia maya.
Email, blog, dan beberapa profilku dalam situs pertemanan aku buka satu persatu. Aku tak menyangka kalau aku cukup populer didunia maya. Terbukti banyak sekali email dan pesan yang masuk dalam personal inbox milikku. Tak ada yang menarik dari setiap pesan yang aku terima setiap harinya. Rata-rata hanya mengungkapkan betapa mereka mengagumi wajahku, bentuk tubuhku, memuji setiap detil lekuk diriku. Hal yang aku pandang cukup wajar karena hanya itu yang mereka tahu tentang diriku, hanya tampilan fisikku yang bisa mereka lihat dari setiap foto yang aku upload dalam semua situs pertemanan itu.
Tak ada syndrom popularitas yang menghampiri diriku. Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan semua sanjungan itu. Tampilan fisikku yang mereka pandang nyaris sempurna, kehidupan pribadiku yang tergolong sukses, membuat semua orang yang mengenalku tak sungkan untuk memujiku.
Namaku Jonathan Budiharjo Smith, usiaku 27 tahun. Aku anak tunggal dari perkawinan campur antara mamaku yang keturunan Jawa tulen, dengan papaku yang berdarah Inggris. Dilahirkan di kampung halaman papaku di Inggris, ternyata tak cukup membuatku lebih mencintai Tanah Britania Raya. Mungkin karena aku jauh lebih mengenal Jakarta sejak usiaku tujuh bulan. Papaku lebih mencintai kehidupannya di Jakarta, itu yang akhirnya membuat kedua orang tuaku memutuskan untuk kembalik ke Jakarta diusiaku yang belum genap satu tahun, setelah mereka sempat menetap selama tiga tahun disana.
Papaku sukses sebagai pengusaha konstruksi, bekerjasama dengan sahabat kuliahnya yang asli Kebumen, Jawa Tengah. Mamaku, beliau seorang dokter yang memimpin klinik khusus wanita di Bilangan Jakarta Selatan. Klinik yang dibangun oleh Papaku, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh. Meskipun kedua orang tuaku sukses dan cukup padat dengan aktivitas karir mereka masing-masing, itu tak membuatku kekurangan kasih sayang mereka. Orang tuaku rupanya sadar betul bahwa mereka harus tetap memberikan kasih sayang mereka padaku, terlebih aku merupakan anak mereka satu-satunya. Tapi limpahan kasih sayang dan materi itu tak membuatku menjadi manja. Banyak hal yang sangat bermanfaat bagi hidupku yang telah mereka ajarkan padaku.
Aku, diusiaku yang ke dua puluh tujuh ini, aku telah berhasil menyelesaikan program pendidikanku hingga jenjang S3. Suatu prestasi yang mungkin tidak semua orang bisa wujudkan pada usia sepertiku saat ini. Tapi aku menilai itu semua sebagai hal yang tidak terlalu luar biasa. Semua gelar aku raih dalam waktu singkat, semata-mata hanya karena rasa tanggung jawab pada kedua orang tuaku yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan dana untuk biaya pendidikanku.
Saat ini aku bisa dibilang sukses dalam memimpin Firma Hukum dan Perusahaan Advertising yang aku dirikan dari hasil tabunganku selama ini. Terkadang aku merasa sangat beruntung, hidup dengan banyak limpahan materi, tapi hal itu tak membuatku menjadi konsumtif dan boros. Tak heran, uang yang sejak kecil selalu aku dapatkan dari kedua orang tuaku dan keluarga besarku ternyata bisa terkumpul dalam jumlah yang luar biasa dalam rekening pribadiku.
Aku memang sangat beruntung! Bukan bermaksud untuk sombong, tapi aku juga tak bisa bersikap sangat tidak bersyukur dengan mengatakan bahwa hidupku biasa-biasa saja. Semua serba mudah bagiku. Kehidupanku nyaris sempurna, begitupun orang lain memandang fisik diriku. Perkawinan campuran membuatku memiliki wajah, kulit, penampilan fisik yang diidam-idamkan setiap orang. Tapi itu ternyata tak mempermudah kehidupan cintaku. Bukannya aku tak laku, aku sudah menjalin cinta dengan beberapa wanita. Hanya saja, tiga tahun belakangan ini aku memutuskan untuk menikmati kesendirianku. Sebetulnya aku hanya merasa bingung, banyak wanita yang pernah menjadi kekasihku. Tapi aku tak merasakan apa yang namanya cinta. Semuanya datar, hanya ketertarikan sesaat. Tak ada satupun dari mereka yang bisa membuatku berdebar-debar kencang saat berada disisinya. Tak ada yang bisa membuatku menangis saat aku merasakan rindu yang menggebu. Semuanya terasa datar....
***
"Beep, beep, beep, beep,...", aku dibangunkan oleh alarm jamku.
Pukul 05.30 aku bangun hari ini. Agak sedikit telat dari kebiasaanku bangun jam lima pagi. Aku memang sengaja menyetel alarmku 30 menit lebih siang dari biasanya, karena sabtu ini aku tak memiliki jadwal yang cukup berarti. Setelah menyelesaikan ibadah sholat subuhku, aku bersiap untuk jogging keliling komplek rumahku pagi ini. Aku pasang earphone, dan memutar lagu-lagu kesukaanku yang aku simpan dalam Blackberryku.
"Blings.....", nada sms ponselku berbunyi.
Satu sms diterima, satu sms notifikasi bahwa aku mendapatkan satu pesan dalam salah satu profilku disalah satu situs. Aku pikir nanti saja aku baca sesampainya aku dirumah, karena aku benar-benar sedang menikmati udara pagi ini yang segar.
"Nathan, sarapannya udah siap. Kita makan dulu yuk?", suara mama memanggilku dari dalam rumah ketika aku sedang bermain-main dengan Samson, kucing Bengalku, sepulang jogging.
"Waaaah, nasi uduknya mantap banget Ma!", ujarku sambil mencium pipi kedua orang tuaku yang sudah siap dimeja makan.
"Mama beli atau bikin nasi uduknya?", tanyaku.
"Udah, nggak usah banyak tanya. Yang penting enak kan?"
Mama memang The Best Mom In The World buatku. Beliau tahu betul bagaimana membuat suami dan anaknya bahagia setiap detiknya.
***
To : Jonathan
Subject : Hi!
Message:
Jika cinta hadir untuk memberikan bahagia, kenapa selalu saja ada yang menangis dan tersakiti karena cinta?
Apa ini? Aku sedikit tak mengerti. Satu pesan dari Profil tanpa foto dan identitas diri yang lengkap, bernama Gundala. Sudah seperti tokoh superhero masa kecil saja. Meskipun penuh dengan tanda tanya, aku tetap mencoba membalas pesan itu.
To : Gundala
Subject : Re:Hi!
Message:
Tak ada jawab dari tanya tentang cinta. Karena aku tak tahu apakah cinta itu sebenarnya.
Regards
-Nathan-
***
Sudah seminggu sejak aku menerima dan membalas pesan dari Gundala. Tapi sampai detik ini, tak ada balasan satupun darinya. Mungkin dia tak berkenan dengan jawabanku tempo hari. Atau dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu dari yang lain, yang mungkin juga dia kirimi pesan.
Kenapa aku jadi berharap-harap cemas seperti ini? Aku tak betul-betul mengenalnya, tapi kenapa aku sepertinya sangat berharap akan balasan pesannya?
Aku pikir, dari pada aku mati penasaran, aku putuskan untuk mengirimkan pesan padanya.
To : Gundala
Subject : Re:Hi!
Message :
Karena akupun tak tahu akan definisi cinta, apakah kamu berkenan untuk membagiku jika ternyata kamu sudah mendapatkan jawabnya?
Regards
-Nathan-
Aku hanya ingin tahu, jawaban seperti apa yang sudah dia dapatkan dari pertanyaannya tempo hari. Ya, itulah alasan yang mendasariku untuk mengirim pesan padanya kali ini.
***
Hari ini, segudang jadwal pertemuan sudah memenuhi daftar kegiatanku satu hari ini. Ditengah macetnya jalanan Ibukota, aku betul-betul bersyukur dengan pesatnya kemajuan teknologi. Dunia maya bisa aku selancari dengan laptopku, meskipun ditengah kemacetan pagi ini. Cukup bisa menghiburku, dan jauh lebih terhibur ketika dalam inbox pesan, aku menemukan nama Gundala. Senang sekali aku melihatnya, dengan penuh antusias aku buka pesan itu.
To : Jonathan
Subject : Re:Re:Hi!
Message :
Wild Cat Cafe, Kuta Bali.
Jam 20.00, tanggal 21 Maret 2008.
Apa maksud isi pesan ini? Apa dia memintaku untuk menemuinya ditempat dan waktu yang dia tuliskan dalam jawaban pesannya itu? 21 Maret 2008, itu berarti lusa. Kenapa dia harus mengajakku bertemu ditempat yang cukup jauh untuk hanya sekedar berbagi jawaban atas pertanyaannya? Sangat merepotkan!
To : Gundala
Subject : Re:Re:Re:Hi!
Message :
Memangnya nggak bisa ya kalau sekedar berbagi jawaban tanpa harus ke Bali?
Setidaknya, kita bisa ngobrol via email atau telp.
Here's my email : smith.jonathan.b@yahoo.co.uk
Regards
-Nathan-
***
"Penerbangan terakhir ke Bali jam 3 sore ini Pak!", ujar assistenku, saat aku minta dia mengecek jadwal penerbangan.
"Ok, booking satu tiket buat saya", pintaku.
Aku memutuskan untuk berangkat ke Bali menemui Gundala. Tak ada balasan terhadap pesan terakhirku. Aku pikir, untuk memuaskan rasa penasaranku, tak ada salahnya aku temui dia. Kalaupun ternyata Gundala itu tak juga menunjukkan batang hidungnya ditempat yang sudah ditentukannya, toh aku tetap bisa menikmati Bali untuk sesaat.
***
Sudah hampir jam tujuh malam. Setelah beristirahat dan menyegarkan diriku dikamar hotel yang aku booking untuk satu malam ini saja, aku memutuskan untuk menuju tempat yang sudah disebutkan Gundala. Dalam perjalananku, aku tersadar, bodohnya aku. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Gundala? Aku bahkan tak tahu seperti apa rupanya? Bagaimana aku bisa menghubunginya, kalau seandainya dia tak datang juga? Bodohnya!!!
Tapi aku pikir, ya sudahlah. Aku berangkat saja untuk makan malam, toh perutku sudah sangat lapar dan siap untuk satu porsi Sirloin Steak dan segelas Vanilla Milk Shake. Kalaupun Gundala datang, dia pasti akan menghampiriku, karena dia pasti tahu wajahku dari foto-foto yang aku upload di profilku.
Sambil menikmati menu yang aku pesan, aku mentertawakan diriku. Mentertawakan kebodohan yang sedang aku lakukan. Hanya untuk mendapatkan jawaban akan pertanyaan yang bukan muncul dari benakku, aku sampai mau pergi ke Bali, untuk menemui orang yang sedikitpun tak aku kenal. Seorang laki-laki, ya, laki-laki! Bodohnya aku ini....
"Sebetulnya, cinta tak akan membuat orang lain meneteskan air mata karena merasa disakiti cinta, jika saja orang mau menyadari bahwa sakit yang dirasakannya itu adalah bagian dari cinta itu sendiri", aku tiba-tiba dikejutkan oleh suara laki-laki yang ternyata sudah duduk cukup lama dimeja sampingku.
Seorang laki-laki, tinggi dan tegap. Kulitnya sawo matang, khas kulit orang Indonesia. Cukup tampan menurutku, dan terlihat menjadi lebih tampan dengan penampilannya yang bersih dan rapi. Mungkin usianya sepantar denganku. Atau setidaknya hanya terpaut 2-3 tahun lebih tua dari usiaku.
Aku mengernyitkan dahi. Mungkinkah dia Gundala?
"Ikut aku, disini terlalu ramai. Kita nggak akan leluasa ngobrol ditempat seramai ini", pintanya.
Saat ini, aku merasa ini adalah moment terbodoh dalam hidupku. Bagaimana bisa aku mengikuti kemauan orang yang sama sekali tak aku kenal. Bagaimana kalau aku dibawa ketempat yang sepi, aku dirampok, dibunuh, dan dimutilasi pikirku? Ya Tuhan, bodohnya aku. Tapi aku bagai dihipnotis, aku ikuti kemana laki-laki itu melangkahkan kakinya.
Ternyata hanya ke pantai Kuta, yang berada tepat diseberang cafe. Dia mengambil tempat yang agak jauh dari keramaian. Agak mendekat dengan bibir pantai. Dia membuka sepatunya, dan dijadikan alas untuk duduk diatas pasir putih yang membentang luas. Seperti dihipnotis, akupun ikut duduk tepat disebelah kanannya.
"Thank's udah mau jauh-jauh dateng ke Bali", ucapnya.
"It's ok, gambling juga. If I didn't meet you here, setidaknya bisa lari sebentar dari Jakarta", belaku sedikit menutupi kebodohanku yang menggebu-gebu.
"Bali memang jauh lebih menyenangkan dibanding Jakarta, betulkan kan Bapak Untung?"
Bapak Untung? Wah, dia salah orang pikirku. Kenapa dia panggil aku Untung?
"Kayaknya kita saling salah mengenali orang deh", ujarku seraya berdiri dan bersiap pergi. Karena mungkin saja Gundala yang sebenarnya sedang mencari-cariku di cafe saat ini.
"Aku mungkin saja salah, apalagi kalau ternyata kamu bukan Untung Budiharjo yang aku maksud", ujarnya sambil tetap memandang ke laut lepas.
Untung Budiharjo? Hanya satu orang yang pernah dan selalu memanggilku begitu. Kenapa Untung, karena menurutnya aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Aku langsung duduk tepat dihadapannya, dan mencoba mengamati wajahnya dengan seksama.
"Wira?", tanyaku sambil mencoba mengenali wajah tampan dihadapanku saat ini.
"Maaf, waktu itu aku nggak sempat pamit sama Pakde dan Bude Smith. Karena Eyang tiba-tiba memaksaku untuk ikut dengannya pindah ke Australia".
Sontak aku memeluk erat tubuhnya. Wira Adiputra, sahabat kecilku dulu. Sahabat yang sudah seperti saudara kembarku sendiri. Sahabat yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar, seiring dengan kepergian kedua orang tuanya dan kakak perempuannya karena kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi sepulang dari menjenguk Eyangnya yang bermukim di Australia.
Perasaanku campur aduk, ada rasa sedih, bahagia, dan perasaan aneh lainnya yang bercampur dengan kenangan masa kecilku yang tiba-tiba hadir dalam ingatanku. Semakin erat aku memeluknya, rasa-rasanya tak ingin aku melepaskan pelukan ini dan kehilangan sahabatku ini untuk yang kedua kalinya.
***
Aku bangun sangat siang hari ini, jam 10.30 wita. Banyak yang aku bicarakan bersama Wira hingga pagi tadi, dan aku masih di Bali saat ini. Tapi siang ini, aku harus segera kembali ke Jakarta. Karena aku janji pada orang tuaku bahwa aku hanya satu malam saja di Bali. Lagipula, mereka pasti akan senang sekali dengan kejutan yang aku bawa dari Bali.
Setibanya di Jakarta, aku langsung pulang kerumah. Tak aku gubris rengekan assistenku yang memintaku untuk mampir sebentar kekantor. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan orang tuaku dan melihat ekspresi wajah mereka jika tahu siapa yang ikut denganku dari Bali saat ini.
"Ma...Pa...Nathan pulang!", aku berteriak-teriak seperti anak kecil.
Rupanya kedua orang tuaku sedang berada dihalaman belakang, merawat tanaman-tanaman hias mereka.
"Ma, Pa, Nathan punya tamu spesial yang Nathan bawa dari Bali", ujarku antusias sekali.
"Apa kabar Pakde, Bude?", Wira langsung memberi salam kepada kedua orang tuaku.
"Gimana rasanya Pakde sama Bude punya anak sukses kayak Untung?", tanya Wira memancing ingatan kedua orang tuaku.
"Wira??", mama ternyata bisa langsung mengenalinya.
Merekapun langsung menghampiri dan memeluk Wira. Beribu pertanyaanpun langsung meluncur dari mulut kedua orang tuaku bagi Wira. Mungkin mereka juga seperti baru saja menemukan anak mereka yang pernah hilang. Hari ini, rumahku dipenuhi canda tawa kebahagiaan yang penuh dengan nostalgia. Menyenangkan sekali...
***
Sudah seminggu Wira berada dirumahku. Sudah seminggu pula aku banyak mendelegasikan pekerjaanku pada assistenku dikantor. Aku hanya mau menghabiskan waktuku bersama Wira, selagi dia masih ada disampingku dan belum terpikir untuk kembail ke Australia. Akupun bisa melihat, bahwa Wira pun seolah-olah masih enggan kembali ke negeri kangguru itu. Terbukti, sampai detik ini Wira masih belum tahu kapan dia akan kembali ke Australia.
"Aku tuh bener-bener nggak nyangka bisa nemuin kamu di situs itu", ucap Wira membuka obrolan malam ini setelah aku selesai mandi sebelum berangkat tidur.
"Kok bisa ya? Maksudku, kenapa baru sekarang kamu nyari aku? Dulu-dulu kemana aja, gak pernah ada kabar?", tanyaku.
"Sebetulnya, aku nggak pernah bisa ngelupain kamu, Untung! Cuma selama ini aku juga nggak tahu harus kasih kabar kamu kemana? Aku nggak tahu alamat pos rumah kamu. Mau telpon kamu dari Australia, aku nggak berani. Kamu tahu kan kayak apa galaknya Eyangku? Begitu aku diem-diem bisa telpon kamu, ternyata keluargamu udah pindah dari rumah di Bintaro. Dari situ, aku bingung gimana caranya bisa hubungin kamu", Wira coba menjelaskan.
"Terus?", tanyaku meminta penjelasan yang lebih lengkap.
"Ya terus, sampai beberapa minggu kemarin, aku iseng cari nama kamu di situs pertemanan itu. Ternyata gampang banget, dan langsung ketemu. Aku pikir, kenapa nggak dari dulu aku cari disitu. Siapa tahu kita bisa ketemu lebih cepet".
"Nggak ada kata terlambat. Aku seneng banget kita bisa ketemu lagi", ujarku.
"Aku juga! Aku nggak mau pisah dan kehilangan kamu lagi, Ntung", ucap Wira seraya mendekapku dari belakang dengan erat.
Tak ada perasaan risih pada saat Wira memelukku. Meskipun tubuhku hanya dibalut sehelai handuk. Aku bahkan merasa sangat nyaman, dan tak ingin Wira melepaskan pelukan itu. Kecupan lembut dan pelan yang Wira daratkan dipundakku pun, menghadirkan kehangatan dan sensasi yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Pundak, tengkuk, leher, pipi, lalu bibirku. Membuat kami semakin menikmati sensasi yang sangat luar biasa, menyeret menjauh dari daratan logika.
Ketika aku membuka mata, kurasakan hangat diriku dalam dekapan. Kubuka mataku, ternyata aku berada dalam dekapan Wira, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh kami. Kudorong tubuh Wira menjauh! Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Ini semua salah, salah besar! Kenapa ini semua sampai terjadi? Kenapa??
***
Tak ada pelukan hangat ataupun jabat perpisahan untuk Wira. Setelah kejadian itu, aku langsung menjaga jarak dan menjauh dari Wira. Aku sibukkan diriku dengan semua pekerjaan kantorku. Bahkan aku lewatkan rutinitas sarapan dan makan malam dirumah bersama orang tuaku, semata-mata agar aku tak perlu bertemu langsung dengan Wira. Diapun menyadari gelagatku, hingga akhirnya, beberapa hari kemudian Wira memutuskan kembali ke Australia.
Semua yang telah terjadi malam itu antara aku dan Wira, betul-betul membuatku pusing kepala. Aku terus bertanya-tanya, kenapa itu semua bisa sampai terjadi? Aku tahu itu semua tidak benar, tapi kenapa aku tak menolaknya, bahkan aku merasa bahwa aku juga menikmatinya malam itu. Tapi itu semua salah, dan tak boleh terjadi!
Sejuta tanya melintas dibenakku.Kenapa semua itu bisa terjadi? Kenapa aku dan Wira bisa sampai melakukan hal itu. Tapi tak satupun jawab yang bisa aku dapatkan. Wira, ya mungkin Wira bisa menjawab semua tanya yang muncul pasca kejadian malam itu. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi Wira? Aku belum sempat menanyakan alamat tempat tinggalnya di Australia. Bahkan nomer telponnya pun aku tak sempat menanyakan. Hanya ada satu kemungkinan, situs pertemanan tempat Wira menemukanku. Meskipun kemungkinannya kecil untuk Wira membalas pesanku. Tapi setidaknya aku coba dulu.
To : Gundala
Subject : Re:Re:Re:Re:Hi!
Message :
Wira, banyak tanya yang muncul dalam benakku akan hal yang telah terjadi antara kita malam itu.
Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan semua jawaban itu?
Aku perlu ketemu kamu.
Tapi bagaimana dan kemana?
Need your reply a.s.a.p!
Regards
-Nathan-
Semoga Wira membalas pesanku secepatnya. Aku sangat berharap akan hal itu, karena aku tak mau terus-terusan dihantui kebingungan. Semoga...
***
Tuhan, sudah satu bulan dan tak ada jawaban dari Wira. Kemana Wira? Kenapa? Apakah Wira kecewa dan marah padaku?
Semua ini betul-betul menyiksaku. Semakin banyak tanya yang muncul. Semakin hari, akupun semakin tersiksa. Aku mulai merindukan Wira, sangat merindukannya. Tak mudah bagiku setiap malam untuk memejamkan mata. Semua membayangiku, tempat tidur dan kamar ini menjadi saksi bisu apa yang terjadi antara aku dan Wira. Kini, kamar inipun kembali menjadi saksi ketika aku meneteskan air mataku, menangisi hatiku yang semakin merindukan Wira. Aku merindukannya disampingku, merindukan peluknya, ciuman dan belaian lembutnya. Aku betul-betul merindukan Wira.
Ya Tuhan, apa yang terjadi pada hamba-Mu ini? Hamba tahu ini semua salah dan tak benar. Tapi, apakah ini yang dinamakan cinta? Hamba tak pernah minta untuk mencintai dengan cara seperti ini. Tapi kenapa? Kenapa Engkau mengkaruniakan perasaan ini pada hamba?
Wira, aku mencintaimu!
***
Pagi, siang, sore, dan malam. Bahkan disetiap waktu senggangku, aku sempatkan terus untuk melihat inbox profilku. Hampir dua bulan, semua itu menjadi aktivitas baruku. Aku terus berharap, berharap tanpa tahu kapan Wira akan menjawab pesanku. Akupun tak tahu, apakah Wira akan menjawab pesanku atau tidak.
"Tok...Tok...Tok!", ketukan pintu kamarku mengejutkan lamunanku.
"Nathan, ada surat buat kamu!", ternyata mama yang mengetuk pintu kamarku.
Perlahan aku buka pintu kamarku, "Dari siapa Ma?", tanyaku.
"Lihat aja sendiri", seraya menyodorkan surat beramplop coklat itu.
Wira! Ya Tuhan, akhirnya jawaban itu datang. Tak sabar kubuka amplop surat berperangko Queen Elizabeth itu. Selembar kertas dengan tulisan tangan itupun aku baca perlahan.
Melbourne, June 15, 2008
Dearest, Untung.
Kabarmu, aku harap semuanya baik-baik saja. Aku benar-benar berharap bahwa kamu akan baik-baik saja, terlebih dengan semua yang telah terjadi antara kita. Aku tahu, pasti banyak sekali pertanyaan yang ingin kamu sampaikan padaku. Sebelumnya, aku betul-betul minta maaf jika semua yang telah terjadi diantara kita itu menyakitkan hatimu. Tapi aku hanya bisa berkata, bahwa aku tak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Hari-hari yang aku lewatkan, semua yang terjadi bersamamu selama aku di Jakarta, semuanya sangat membahagiakanku. Bersyukur aku masih sempat menemuimu, masih sempat merasakan bahagia bersamamu. Aku tak tahu apalagi yang harus aku tuliskan disini, apalagi yang harus aku katakan padamu.
Aku mencintaimu, Jonathan Budiharjo Smith!
Semoga itu bisa memberimu jawaban akan semua yang telah terjadi dan dirasakan diantara kita.
Love you!
Wira Adiputra
Ternyata benar! Apa yang aku rasakan ini adalah cinta. Kenapa disaat cinta yang selama ini aku impikan tiba, aku justru harus kehilangan cinta itu? Aku tak peduli meskipun cinta yang kurasakan ini salah. Aku hanya ingin merasakan dan membiarkan cinta itu tetap ada dalam ruang hatiku. Wira, aku akan terus menyimpan cinta ini untukmu, hanya untukmu. Meskipun aku tak tahu, apakah kau akan kembali menemuiku untuk merajut cinta kita berdua atau tidak. Aku cinta kamu Wira....
Category Just A Story
Bila Kuingat....
.
Sepuluh jam sudah aku menunggumu disini. Stasiun ini seolah-olah sudah menertawakan kebodohanku karena sudah mau menunggumu hampir separuh hari ini. Akupun yakin, semua orang pasti juga sedang menertawakanku saat ini. Aku yang naif dan bodoh, yang sudah memilih untuk meninggalkan rumah demi mewujudkan cinta yang selama ini terhalang restu orang tuaku. Tapi kamu, orang yang sudah aku pilih untuk melabuhkan cinta ini, orang yang sudah menjadikanku anak paling durhaka dalam keluargaku, ternyata sudah memberikanku tamparan keras, sekeras hati ini......
'Braaaakk!!'
Sudah buta sepertinya gadis didepanku ini, sampai dia menabrakku padahal tempat ini begitu luas. Tak ada kata maaf terlontar dari bibirnya, dia hanya menatapku kaku. Aaah... Sudahlah, kepalaku masih pusing, tak perlu aku menambah masalah dengan orang yang tak kukenal itu.
Sepertinya aku memang anak yang tak berguna. Aku semakin menyadari betapa orang tuaku sangat menyayangi diriku. Tak ada kemarahan yang keluar akibat kebodohan yang aku perbuat. Padahal aku sudah tak menghiraukan mereka, dan memilih pergi dengan wanita yang ternyata memang tak sungguh-sungguh kepadaku. Meskipun hatiku hancur karena aku sudah terlanjur menggantungkan impian masa depanku padanya, tapi sepertinya aku benar-benar harus bangkit dari keterpurukan ini.
***
"Banyu, hari ini kamu ikut Papa ke cafe kita ok?", suara Papa membuyarkan lamunanku.
"Yah, itung-itung refresh aja, biar kamu gak terlalu jenuh dirumah"
Papa mungkin benar, aku harus keluar dari semua ini. Setidaknya kali ini aku coba jadi anak yang patuh pada orang tuanya. Anggap saja aku mulai belajar mengenal lebih banyak lagi tentang cafe itu, karena cepat atau lambat aku harus mengelola cafe itu. Setidaknya begitulah yang sudah diatur oleh kedua orang tuaku. Aku meneruskan bisnis cafe mereka, dan Lury adik perempuanku, meneruskan bisnis salon milik Mama.
Sudah cukup lama juga aku tak pernah datang ke cafe ini. Ada romansa masa kecil yang hadir ketika aku sampai di cafe ini. Ketika aku dan Lury masih kecil, setiap akhir pekan kami selalu menghabiskan waktu kami di cafe ini. Cafe ini memang sudah menjadi bisnis turun temurun dari keluarga Papa.
Semuanya begitu nyaman dan hangat sekali disini. Aku mulai kembali mencintai tempat ini. Tapi, ada yang menggangu pandanganku. Siapa gadis yang ada di meja kasir itu? Sepertinya aku mengenal wajahnya, tapi siapa dan dimana??
Gadis di meja kasir itu, entah kenapa tiba-tiba mengusik hatiku. Aku tak begitu paham kenapa, aku bahkan tak begitu yakin apa aku pernah mengenalnya atau tidak. Tapi wajahnya, sepertinya aku pernah melihat wajah itu. Ya, wajah yang cantik tanpa make up sedikitpun. Tapi kecantikan itu tertutup dengan kekakuan yang tersirat diwajahnya, seolah memendam kesedihan dan kebencian.
Aaaaah....Aku ingat sekarang!
Dia adalah gadis yang menabrakku di stasiun kereta tempo hari.
***
"Pa, kasir di cafe yang shift siang kemarin siapa namanya?", aku mencoba memberanikan diri bertanya disela-sela makan malam kami.
"Hmmmm, kenapa memangnya?", tanya Papa.
"Heran aja, kok Papa bisa mempekerjakan perempuan judes tanpa ekspresi seperti itu?"
"Namanya Lintang. Dia tak seburuk yang kamu kira kok. Anaknya pintar, pekerja keras, dan selalu bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Papa tahu, terkadang dia memang terlihat kaku dan dingin. Papa juga terkadang berpikir, apakah ada masalah berat yang selama ini menyelimuti kehidupannya. Tapi menurut Papa, selama itu tidak menggangu pekerjaannya dan menurunkan kinerjanya, ya biarkan saja".
Ternyata benar dugaanku. Lintang bukan hanya kaku dan dingin karena menabrakku tempo hari, tapi memang sepertinya begitulah pembawaannya sehari-hari. Aku jadi penasaran, sebetulnya apa dan kenapa gadis secantik dia bisa jadi sangat kaku dan dingin seperti itu??
***
Semakin hari rasa penasaranku akan Lintang jadi semakin besar. Terlebih setelah aku mencoba mengamati sendiri semua gerak-gerik Lintang di cafe. Tapi aku sadar, kalau aku hanya memperhatikan dia ditempat kerja, aku tidak akan medapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang muncul dibenakku tentang Lintang. Aku harus mencari tahu lebih tentang dia.
Malam ini aku putuskan untuk mengikuti dia pulang. Tak jadi masalah meskipun dini hari, karena aku harus mencari tahu lebih tentang dia. Sekaligus aku khawatir dengan keselamatannya pulang dini hari, karena baru kali ini aku membuat jadwal shift malam untuknya. Tujuanku cuma satu, pengintaian akan jauh lebih leluasa dilakukan pada malam hari dibandingkan siang atau sore hari. Sudah seperti detektif swasta saja aku ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Perlahan aku mengikuti taksi yang ditumpangi Lintang. Taksi itu membawa kesuatu pemukiman yang cukup padat, rumah-rumah berdiri berhimpitan. Aku berpikir, mungkin tak ada privasi bagi penduduk pemukiman ini. Karena satu bangunan dengan bangunan yang lain saling berhimpitan.
Rupanya aku harus meninggalkan mobilku diujung gang. Gang itu tidak terlalu sempit dan gelap, tapi cukup bisa menghilangkan keseimbanganku. Teman-temanku bilang, ini salah satu bentuk Phobia. Aku bisa merasa pusing dan kehilangan keseimbangan jika berada dilorong sempit dan gelap. Aku benar-benar pusing, aku bingung tak tahu harus berjalan kearah mana. Sampai tiba-tiba ada tangan yang menopangku, dan akupun tak sadarkan diri.
Kepalaku masih agak pusing. Aku coba membuka mataku dan melihat sekeliling. Dimana aku? Aku tak mengenal tempat ini?
"Istirahat saja dulu kalau Bapak masih merasa pusing"
Aku mencoba mencari dari mana asal suara itu, sampai tiba-tiba wajah itu muncul dihadapanku dan sedikit membuatku terkejut.
"Maaf mengagetkan. Bapak tadi pingsan diujung gang, makanya Bapak saya bawa kerumah. Kalau Bapak masih mau istirahat, silahkan saja. Saya tunggu diteras depan saja, jadi kalau ada perlu silahkan panggil saya didepan".
"Kenapa harus tunggu diteras? Inikan sudah hampir pagi, dan kamu baru pulang kerja. Memangnya kamu nggak mau istirahat?", tanyaku dengan penuh heran.
"Maaf Pak, saya tinggal disini sendiri. Saya tidak mau timbul fitnah dari tetangga jika mereka tahu ada laki-laki yang menginap dirumah saya"
"Oh, maaf kalau begitu", aku jadi tak enak hati pada Lintang.
"Saya pamit aja kalo gitu, sudah mendingan kok. Kamu kan harus istirahat, saya juga lebih baik istirahat dirumah aja", lalu akupun bergegas pulang.
***
"Bisa keruangan saya sebentar Lintang?", aku memintanya ketika kami bertemu malam ini di cafe.
"Tok..Tok..Tok.."
"Masuk!", seruku.
"Maaf, Bapak panggil saya? Ada yang bisa dibantu?", Lintang bertanya dengan bahasa tubuh yang membentangkan jarak antara kami, seperti budak dengan majikan.
"Duduk dulu, santai aja. Belum banyak pengunjung kan?"
"Tapi Pak?"
"Pak? Emang saya keliatan tua banget ya?", aku coba melontarkan canda untuk sedikit melonggarkan ketegangan antara kami.
"Maaf, bukan maksud saya..."
"Iya, saya ngerti", aku coba memotong pembicaraannya.
"Just relax...Kalo lagi kerja, gak apa-apa panggil Bapak. Diluar itu, panggil Banyu aja. Nah sekarang, aku cuma mau bilang terima kasih karena kamu udah nolong aku."
"Sama-sama Pak. Tapi kalau saya boleh tau, ngapain Bapak ada didepan gang rumah saya?"
Aduh.....Aku harus jawab apa?!?
"Ummm...Anu...Itu, saya nyari alamat rumah temen!", tiba-tiba terlontar alasan itu begitu saja.
"Baiklah kalau begitu, mudah-mudahan sudah ketemu alamatnya. Saya permisi mau melanjutkan pekerjaan saya"
Ok, alasan yang aneh mungkin. Tapi ternyata cukup membuat Lintang percaya. Percaya? Apa benar Lintang percaya? Atau dia sebetulnya tidak peduli?
***
Satu bulan sudah aku mengenal dan memperhatikan Lintang. Ternyata Papa benar, dia tak sekaku dan sedingin yang aku pikirkan selama ini. Terbukti, satu bulan terakhir ini dia tak menolak atau menghindariku, padahal semua orang pasti bisa dengan jelas melihat bahwa aku mencoba mendekatinya. Aku bahkan merasa sepertinya Lintang memberikan respon positif dari pendekatanku ini.
Pendekatan? Ya, pendekatan!
Aku baru menyadari, ketertarikanku pada Lintang bukan karena ingin tahu kenapa dia sekaku dan sedingin itu. Tapi aku semakin menyadari bahwa aku tertarik padanya, ya, aku menyukainya. Cinta terkadang tak memiliki alasan, itu juga yang aku rasakan kini, aku mencintainya dan aku tak tahu kenapa aku mencintainya. Tak perlu harus ada jawaban dari setiap pertanyaan menurutku.
Lintang juga sepertinya menangkap sinyal-sinyal cinta dariku. Tak pernah sekalipun dia mengelak dan bersikap dingin padaku seperti yang selama ini aku kira. Dia bahkan pribadi yang sangat menyenangkan. Aku bersyukur mengenalnya dan jatuh cinta padanya, karene dia telah membuat aku melupakan kesalahan yang telah aku perbuat beberapa tahun terakhir ini dalam waktu yang sangat singkat.
Tak ada kata jadian diantara kita, tak ada hari dan tanggal, kapan resminya kami menautkan hati. Semua berjalan seiring waktu membawa kami dalam romansa indah ini.
Entah apa yang membuatku begitu yakin pada Lintang. Aku yakin bahwa dialah tulung rusukku yang Tuhan ambil dulu. Lintang adalah takdirku, aku sangat percaya itu. Aku juga yakin, ini semua bukanlah cinta buta sesaat. Semua begitu mudah bagi aku dan Lintang. Orang tuaku pun tak menentang pilihanku kali ini. Padahal biasanya mereka sangat selektif, Bibit, Bebet, dan Bobot. Cukup mengherankan bagiku, karena aku tahu sebetulnya Lintang jauh diluar kriteria Bibit, Bebet, dan Bobot orang tuaku.
Lintang hanya gadis yatim piatu lulusan SMA yang bekerja sebagai kasir. Sangat jauh sekali dari apa yang selama ini selalu digembor-gemborkan orang tuaku. Tapi Lintang memang luar biasa!
Tanpa proses yang rumit dan berbelit, akhirnya aku menikahinya. Semua sangat dilancarkan oleh Yang Maha Kuasa, dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Aku bersyukur karena Lintang sangat mencintaiku, belum pernah aku dicintai setulus ini sebelumnya. Aku berjanji untuk selalu mendampinginya hingga akhir hayatku.
***
"Sayang ini kotak apa?", tanyaku ketika kami sedang berbenah barang-barang kami dirumah baru kami hadiah perkawinan dari Papa dan Mama.
"Bukan kotak apa-apa", Lintang dengan gugup menjawab dan langsung merebut kotak itu.
Aku heran, jika bukan hal yang penting, kenapa dia harus segugup itu? Tapi aku tak mau mempermasalahkan hal itu sekarang, aku tak mau merusak kebahagiaannya akan rumah baru kami.
***
Malam semakin larut, tapi aku belum juga bisa memejamkan mataku. Bukan karena ini malam pertamaku dirumah baru kami. Tapi karena aku tak bisa berhenti memikirkan tentang kotak yang penuh tanda tanya milik Lintang. Ah, dari pada aku mati penasaran, aku putuskan untuk mencari tahu apa yang ada didalamnya. Aku sempat mengamati tadi, dimana kotak itu diletakkan Lintang. Tak sulit untuk menemukannya, karena aku beyul-betul mengamatinya tadi.
Perlahan aku buka kotak itu, aku bingung dengan apa yang aku temukan. Ada setumpuk foto-foto seorang wanita yang hampir disemua foto dicoret-coret pada bagian wajahnya. Juga ada beberapa kartu ucapan ulang tahun dari seorang wanita yang ternyata Mamanya Lintang. Berarti Mamanya Lintang masih hidup?? Buktinya dia masih mengirimkan ucapana ulang tahun untuk Lintang tahun ini. Tapi kenapa Lintang bilang Mamanya sudah meninggal pada saat melahirkannya? Kenapa dia berbohong padaku tentang hal ini? Ah, kepalaku penuh dengan tanya yang aku tak tahu apa jawabnya.
***
Pagi ini, setelah aku mengantarkan Lintang ke cafe, aku memutuskan untuk mencari alamat Mamanya Lintang. Berbekal alamat yang aku dapatkan dari kartu ucapan ulang tahun milik Lintang. Tak sulit menemukan alamat itu. Tak sulit juga menemukan rumah yang berada dipemukiman kumuh padat penduduk. Hingga sampailah aku didepan sebuah rumah yang cukup memprihatinkan. Tak ada suara jawaban dari ketukan dan salamku. Aku memberanikan diri masuk kedalam. Betul-betul aku tak mengira, jika memang selama ini Mama Lintang tinggal ditempat ini, dia pasti sangat menderita.
"Siapa disana?", tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara wanita yang penuh menyiratkan kelelahan dalam hidup.
Aku menghampiri ruangan dari mana suara itu berasal. Disitu aku menemukan seorang wanita tua yang sepertinya sudah sangat lelah menjalani hidup. Mamanya Lintang, Ibu mertuaku, beliau hidup menderita sendirian. Aku tak habis pikir, kenapa Lintang berbohong padaku tentang semua ini? Kenapa?
"Aku sudah tahu semua tentang Mamamu Lintang", aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan malam itu.
"Maksudnya apa?", dia masih berpura-pura tak tahu.
"Kenapa kamu bilang Mamamu sudah meninggal ketika melahirkanmu? Kenapa kamu bohong padaku tentang hal ini? Aku sudah bertemu Mamamu hari ini. Aku melihat langsung seperti apa kehidupan yang dia alami".
"Apa yang kamu tahu tentang kehidupannya? Kamu gak tahu apa-apa!", tiba-tiba Lintang berteriak histeris.
"Ya kalau kamu nggak pernah kasih tahu aku, bagamana aku bisa tahu??"
"Seorang wanita yang sudah meninggalkan anaknya yang masih kecil, meninggalkan suaminya yang sakit-sakitan, dan memilih untuk hidup dengan lelaki kaya. Masih pantaskah dia dipanggil Mama?? Kamu nggak tahu seberapa berat hidup yang harus aku lewati, seberapa berat aku harus menghidupi aku dan Ayahku, mengobati penyakit Ayahku yang tak kunjung sembuh. Aku masih terlalu kecil untuk itu semua. Kamu nggak tahu kehidupan seperti apa yang harus aku lewati setelah Mama meninggalkan kami!!", Lintang semakin histeris. Aku tak kuasa meneruskan pembicaraan ini. Pelan aku peluk dia, aku rengkuh dan memberinya kehangatan. Kini aku hanya berharap, semoga Lintang mau sedikit membuka maaf bagi Mamanya. Setidaknya dia kini tahu seperti apa kondisi yang dialami Mamanya.
***
Hari ini cuaca panas sekali, padahal beberapa hari kemarin hujan deras mengguyur dan cukup membuat sejuk kehidupan. Aku melangkahkan kaki dengan penuh semangat. Ya, aku sangat semangat sekali menjalani hari ini karena ada hal spesial yang akan aku lakukan hari ini. Hal spesial? Hal apakah itu? Kemana aku akan pergi melangkah saat ini? Hal spesial apa yang aku lakukan dan dimana? Kenapa aku tiba-tiba tak ingat apa-apa? Aku bingung, kepalaku mendadak pusing sekali, semuanya berputar, semua menjadi gelap, semua...............
Perlahan ku buka mataku. Semua serba putih disekelilingku. Ya Tuhan, apakah aku sudah mati? Dimana aku saat ini?
"Bapak sudah sadar rupanya", terkejut aku mendengar suara itu. Rupanya seorang perawat yang berada disampingku.
"Bapak sekarang dirumah sakit, tadi ada seorang wanita yang mengantarkan Bapak kesini. Katanya dia menemukan Bapak tergeletak pingsan di taman kota. Tak ada identitas yang kami temukan, dan tak ada juga yang bisa kami hubungi untuk menjemput Bapak di rumah sakit ini. Sepertinya semua barang bawaan Bapak diambil orang".
Perlahan aku langkahkan kakiku menuju ruangan dokter yang merawatku. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tiba-tiba lupa dan pingsan ditengah jalan? Apakah ini ada hubungannya dengan migrain yang sering menyerangku?
"Sebetulnya saya sakit apa Dok?", tanyaku pada Dokter yang merawatku.
"Maaf sebelumnya, boleh saya tau nama dan usia Bapak?", Dokter itu bertanya padaku.
"Nama saya Banyu Rahardian, 31 tahun Dok".
"Baik Pak Banyu, berdasarkan hasil analisa awal kami, ada suatu kelainan pada syaraf otak anda. Tapi diagnosa itu bisa saja salah, semua tergantung pada hasil scan yang sudah kami lakukan. Minggu depan anda bisa kembali lagi kemari untuk mengetahui hasil akhir pemeriksaan anda".
"Tapi Dok, terus terang saja, sebetulnya apa penyakit yang ada pada diri saya Dok?", tanyaku penuh curiga.
"Apakah sebelum kejadian ini Pak Banyu sering mengalami sakit kepal yang hebat?", tanya Dokter itu.
"Iya Dok, sudah hampir satu tahun terkhir ini saya sering mengalami migrain hebat. Saya pikir itu semua karene stress yang mendera kehidupan saya Dok. Karena terbukti, bulan-bulan terkahir ini saya sudah jarang mengalaminya lagi Dok, karena saya sudah tidak terlalu stress lagi. Tapi hari ini, saya tiba-tiba lupa tentang hal yang akan saya lakukan dan saya juga lupa kemana saya akan pergi? Berusaha keras saya mengingat semua itu ditengah perjalanan saya, sampai akhirnya migrain itupun menyerangkan lagi dan sangat tak tertahankan. Mungkin itu yang membuat saya akhirnya ambruk ditengah jalan Dok".
"Saya sangat mengenal gejala itu, dan ada satu kemungkinan terburuk yang terjadi pada diri anda. Tapi sekali lagi, semua itu tergantung hasil pemeriksaan minggu depan, dan tergantung pada kemajuan kondisi anda"
"Apa itu Dok?", tanyaku penasaran.
"Ada satu penyakit yang mungkin anda idap, Alzheimer".
"Penyakit apa itu Dok?"
"Satu penyakit yang menyerang memori ingatan anda. Pertama anda akan lupa dengan apa yang akan anda lakukan, kemudian anda akan lupa dengan banyak hal yang telah terjadi dalam hidup anda, anda juga akan lupa dengan semua yang ada disekitar anda, hingga akhirnya anda akan lupa dengan diri anda, dan andapun lupa akan cara menjalani hidup ini. Dengan semakin habisnya memori anda, maka perlahan tapi pasti, kematian bisa menjemput anda".
Aku seperti disambar petir disiang hari. Penyakit apa itu? Kenapa harus menimpa diriku? Aku tak percaya dengan semua itu!
***
Pagi ini aku terbangun lebih awal. Aku ingin sekali membuatkan Lintang sarapan pagi ini. Nasi goreng sosis kesukaannya. Ya, aku masih ingat sarapan favoritnya, berarti ada kemungkinan diagnosa dokter salah akan penyakitku.
"Aduh...Pagi-pagi udah bikinin aku sarapan, makasih ya Sayang", Lintang mengecupku dengan penuh mesra.
"Tapi sayang, kok pedes banget nasi gorengnya? Kamu kan tau, aku nggak pernah suka makanan yang pedes", baru suapan pertama Lintang langsung berhenti menyantapnya. Ya Tuhan, apa benar Lintang tak pernah suka makanan pedas? Tapi kenapa yang aku ingat makanan pedas adalah kesukaannya? Haaaaah, mungkin aku lupa tentang hal itu.
Setelah Lintang berangkat ke cafe, aku memutuskan untuk membuka-buka lagi album-album fotoku. Aku mulai dari album paling lawas, foto-foto masa kecilku yang bahagia bersama keluargaku. Lalu foto-foto masa sekolahku, sampai foto-fotoku dengan Ryani mantan kekasihku yang terakhir. Aaaaah, kenapa foto-foto ini masih aku simpan semua disini? Aku jadi teringat akan semua kisahku dengannya. Teringat pula bagaimana aku terakhir kali menunggunya distasiun kereta dengan rencana gila kawin larinya. Tahun-tahun yang melehakan bagiku menjalin hubungan dengannya.
Masih ada satu album foto terbaru. Masih sangat baru sekali, bahkan aromanya pun masih belum hilang. Perlahan mulai kubuka album itu. Dihalaman pertama, ada foto sepasang pengantin dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Itu aku, mengenakan pakaian basahan khas Yogyakarta. Kulihat disampingku ada seorang wanita cantik, sangat cantik, sepertinya dialah mempelai wanitanya. Siapa dia? Siapa namanya? Aku sudah menikah? Apakah aku menikah dengan wanita di foto itu?
Aku buka lembar demi lembar halaman album foto itu. Semua berisi foto pernikahanku dengan wanita cantik itu. Siapa dia? Kenapa aku tak bisa mengingatnya? Kenapa aku tak bisa sedikitpun mengingat akan pernikahan itu? Aaaaaah, kepalaku sakit sekali!!!!
***
Hari-hariku kini aku habiskan untuk mengingat setiap detil yang ada dalam kehidupanku. Aku tandai dengan memo semua yang bisa aku ingat disekeliling kehidupanku. Setiap detil, aku usahakan supaya tak ada yang terlewat. Banyak sekali memo yang kubuat. Aku senang, itu berarti ingatanku masih baik.
"Aku pulang sayang!"
Aaaah, ada suara wanita yang baru saja masuk kerumahku. Wanita yang cantik, dia tersenyum menatapku. Dia menghampiriku, memelukku, dan mencium keningku.
"Kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru datang lagi? Kenapa kamu tak menemuiku distasiun itu? Aku menunggumu barjam-jam Ryani!".
"Ryani? Apa maksudmu Mas Banyu?", wanita cantik itu mundur menjauh dariku. Ada raut kebingungan diwajahnya. Aku jadi bingung, kepalaku sakit sekali. Aku bingung, semua berputar, semua gelap......
Kubuka mataku perlahan. Apakah aku tertidur? Samar-samar aku mendengar suara percakapan diruang tengah. Ada siapa diluar?
"Lintang bingung Pa. Ada dengan Mas Banyu. Akhir-akhir ini semua sikapnya sangat aneh. Dia tak mau pergi kemanapun. Dia hanya mengurung diri dirumah. Seperti yang Papa dan Mama liat, seluruh rumah penuh dengan tempelan memo. Seolah-olah Mas Banyu mencoba menandai seisi rumah supaya dia tak lupa dengan nama serta kejadian yang ada dirumah ini. Mas Banyu juga akhir-akhir ini tampak lemah dan sering pingsan", jelas sekali aku dengar wanita itu berbicara sambil menangis.
"Lebih baik kamu hubungi Dokter yang terakhir dikunjungi Banyu. Mungkin Dokter itu tau apa yang terjadi pada Banyu", nyaman sekali aku dengar suara laki-laki itu.
Siapakah mereka? Siapa yang sedang berbincang diruang tengah? Aku coba untuk mencari tahu, aku buka pintu kamarku. Aku terpaku, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hangat, ya hanya rasa hangat dan basah menjalari kakiku.
"Mas Banyu!!!", wanita cantik itu berteriak histeris menghampiriku.
"Kenapa Mas Banyu pipis disini???", dia terisak-isak memelukku.
Dibawanya aku masuk kekamar. Dilapnya tubuhku yang basah dan digantinya celana yang sudah aku basahi. Aku bingung, kenapa ini terjadi???
***
Pagi ini, rumah sudah sepi saat aku terbangun. Aku menemukan memo didepan pintu kamar.
"Mas Banyu, aku pergi sebentar ke Dokter Carlos. Mas Banyu jangan kemana-mana ya, aku segera pulang".
-Lintang-
Lintang pergi ke Dokter Carlos, Dokter yang menangani penyakitku. Lintang Pelitasari, istriku. Aku ingat, akhirnya aku ingat semuanya. Aku bisa mengingat lagi. Aku ingat siapa wanita cantik itu. Lintang, dia istriku. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Selagi kuingat semua ini, aku harus mencatatnya, agar nanti jika aku lupa lagi, aku bisa membaca catatan ini dan mengingatnya lagi. Satu lembar penuh aku tuliskan semua yang aku ingat dalam kertas itu. Aku mulai semakin menyadari, ternyata penyakit itu benar-benar menggerogotiku. Perlahan tapi pasti semua memoriku akan hilang, dan seiring semua itu, nyawaku pun perlahan akan meninggalkan ragaku. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tak boleh membuat Lintang sedih. Aku tak boleh menghancurkan hidupnya. Dia masih sangat muda, masa depannya masih panjang. Aku harus membuatnya bahagia, dengan caraku sendiri.
Pintu dibuka, rumah begitu sunyi. Lintang melangkahkan kakinya kedalam rumah. Tak ditemukannya yang dicari. Diapun melangkah masuk kekamar, sepi.
"Mas Banyu dimana?", Lintang berteriak-teriak mencari.
Dijelajahinya seluruh rumah, tapi nihil!
Hanya secarik kertas yang dia temukan di atas meja makan.
Lintang Pelitasari, lahir di Jakarta 17 Mei 1980. Aku, Banyu Rahardian. Lahir di Yogyakarta 21 Juli 1977. Aku menikahimu di Jakarta 27 Agustus 2008. Aku memilihmu, karena kamu wanita yang luar biasa bagiku. Lintang, akhirnya aku mengingat semuanya. Aku bersyukur, Tuhan mau mengembalikan ingatanku walau sesaat. Dan disaat Tuhan mengembalikan sesaat ingatan ini, aku harap kamupun tersenyum untukku. Maaf aku harus pergi darimu. Alzheimer ini terlalu cepat merenggut semua memoriku. Semua akan hilang, ingatan masa laluku, ingatan akan kehidupanku, bahkan akupun akan melupakan siapa diriku sebenarnya. Setelah aku menyelesaikan surat ini, akupun yakin bahwa aku pasti sudah lupa akan semuanya. Jadi disaat aku masih mengingatmu, aku harus pergi meninggalkanmu. Aku tak mau pergi disaat aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Satu hal yang harus kamu tahu, meskipun semua ingatanku telah pergi, meskipun nyawakupun telah enggan barada dalam ragaku lagi, tapi cintaku tak akan pernah pergi dari hatimu. Biarkan aku tetap ada dalam ingatanmu, karena aku tak mampu untuk terus menyimpanmu dalam ingatanku lagi. Lintang, aku sangat mencintaimu....
I Love You
Banyu Rahardian
Hanya itu yang aku ingat dalam beberapa menit. Sekarang, tak ada sedikitpun yang aku ingat lagi. Apa yang terjadi? Tak ada satupun yang bisa aku ingat. Kenapa aku? Siapa aku? Kenapa semuanya kosong dalam isi kepalaku?
Semuanya pergi meninggalkan ingatanku. Semuanya melayang, sama seperti tubuh ini yang semakin ringak melayang tinggi jauh meninggalkan alam sadarku.
Siapa aku?
Dimana aku?
Apa yang aku lakukan?
Bila kuingat...Bila sedetik saja aku diberi kesempatan mengingat, aku hanya ingin mengingat cintaku pada Lintang.
Category Just A Story
A Love That Will Last...
.
Jakarta, 13 January 2005
Beep..Beep..
Sejujurnya, bukan karena itu aku tidak pergi kuliah. Ada hal yang sangat mengganggu pikiranku. Membuatku tak habis berpikir, kenapa aku sampai bisa merasakan dan memikirkan hal yang sama sekali tidak seharusnya dipikirkan dan dirasakan. Ah...Aku pusing! Aku sendiri tak mengerti kenapa?!?!
Jakarta, 14 January 2005
Siang ini Jakarta sangat panas. Sebetulnya wajar jika Jakarta panas. Toh selama ini memang begitu cuaca Jakarta. Tapi entah kenapa aku merasa Jakarta jauh lebih panas dari biasanya. Itu memaksaku hanya memakai celana pendek dan t-shirt untuk menemui Dinar. Ya, siang ini Dinar mengajakku nonton di Taman Anggrek 21. Jujur, aku malas sekali. Karena aku yakin dia pasti akan mencecarku dengan banyak pertanyaan seputar kenapa aku tidak kuliah selama bebrapa hari kemarin.
Mulanya Dinar mengatakan padaku bahwa dia juga akan mengajak Damar, sahabatku. Tapi aku melarangnya. Aku tidak mau bertemu dengan Damar, karena dialah alsan utama kenapa aku tidak pergi kuliah. Aku tidak mau bertemu dengan Damar.
“Udah lama Josh?”, suara Dinar mengejutkanku.
“Umm...yah lumayan. 10 menitanlah!”, jawabku.
“Kita mau nonton apa neh Din?”
“Nontonnya nanti aja ya Josh, sekarang gimana kalo kita cari tempat ngobrol dulu?”
“Ya udah! Kita ke Music Café aja yuk, kebetulan aku juga belum makan.”, ajakku.
Kamipun langsung melangkah menuju Music Café yang terletak tak jauh dari bioskop. Aku pun langsung memilih tempat favouritku di pojok kiri dekat jendela. Disitu biasanya aku menghabiskan waktuku dikala aku jenuh menjalani hidup ini. Sambil menyantap Banana Split kesukaanku dan melemparkan pandanganku keluar jendela, menikmati sibuknya bagian barat kota Jakarta.
“Nasi Goreng Seafood satu sama Ice Lemon Tea”, pesanku pada pelayan yang sudah langsung menghampiri kami.
“Kamu Din?”, tanyaku pada Dinar yang duduk tepat didepanku.
“Aku nggak makan deh, nemenin kamu aja.”, jawabnya.
“Ah…Nggak seru! Masak aku makan sendirian? At least kamu minum gitu?”, pintaku.
“Ya udah, aku pesen Orange Juice aja deh!”
“Umm…minta Banana Splitnya juga Mbak, satu!”, tambahku.
“Ih, kamu tuh ya!Dasar babi beruang, kalo makan banyak banget. Makin gembul aja lho nanti.”, ledek Dinar.
“Ah, gembul-gembul begini banyak yang naksir lho!!”, belaku sambil bercanda.
Dinar tertawa lepas sambil mencubit lenganku lembut. Ah…Dia terlihat semakin cantik kalau tertawa. Wanita paling sempurna yang pernah aku kenal. Cantik, pintar, berkepripadian baik, ah..Typikal idaman para pria.
“Josh, ada yang mau aku omongin ke kamu!”, tiba-tiba Dinar membuyarkan lamunanku.
“Mau ngomong apa? Asal jangan bahas kenapa aku nggak kuliah kemarin-kemarin ini. Aku malas jawabnya!”, pintaku.
“Nggak kok! Aku nggak akan tanya itu. Ada hal yang ingin aku sampein ke kamu.”, jawabnya.
“Apaan seh? Kok kayaknya serius banget?”, tanyaku.
“Umm…Aku mau tau, sebenarnya selama ini kamu ada sedikit perhatian nggak sama aku? Eh…Maksudku…Aduh!! Maksudku…”
Dinar tampak kikuk sekali. Wajah putihnya tampak memerah.
“Kamu mau nanya apa she Din?” tanyaku. “Kok aku malah jadi bingung. To the point aja deh. Kamu kan tau aku nggak suka basa-basi.”
“Aku mencintaimu Josh!”
Ya Tuhan! Apa-apaan ini? Tanyaku dalam hati..
Aku berlari mengejar Dinar, berusaha mengejarnya yang berlari meninggalkanku keluar Mall. Hatinya pasti hancur mendengar jawabku tadi. Belum sempat aku menyusulnya, tiba-tiba dari arah kanan sebuah Honda Jazz melaju kencang dan menubruk mahluk tercantik yang pernah aku kenal. Hatiku hancur melihatnya. Aku berlari menghambur kearah kerumunan orang yang sudah ramai menonton tubuh Dinar yang tergolek tak berdaya. Kupeluk tubuhya yag berlumuran darah. Ada rasa penyesalan terbersit di dada.
Ya Tuhan! Dia membawa cintanya sampai mati. Dinar, maafkan aku…Bukan ku tak menyukaimu. Tapi aku mencintai orang lain. Maafkan aku…
::: Wah..Nyoba nulis neh. Abis semua orang pada bikin cerita sendiri-sendiri. Jadi gw juga bikin, ajang pembuktian pada diri sendiri bahwa gw juga bisa nulis gitu loch:-p Masih standar bgt emang, dari mulai jalan ceritanya, pemilihan katanya, sampai gaya penulisannya. cus gw pemula yg tingkatnya dibawah amatir hehehe...Ditunggu hinaan dan celaannya hehehe....
Category Just A Story